Beranda » Tulisan » ANTI KKN HANYA SLOGAN??

ANTI KKN HANYA SLOGAN??

Oleh : Riyan Rizki Fauzi – Geologi UNPAD 2012

Ungkapan/slogan anti KKN mungkin sering kita saksikan, baik dalam bentuk poster, spanduk, maupun dalam bentuk baleho-baleho besar yang terpampang di jalanan dan di berbagai instansi pemerintahan. Kata-kata indah dan menarik yang ditampilkan, ditambah lagi dengan gambar-gambar unik yang meyakinkan, semakin membuat kesan bahwa instansi yang memasang slogan-slogan tak akan terlibat dalam kasus yang demikian.

11

Polri, Kejaksaan Tinggi, DPR RI, Departemen Agama, MK, hingga berbagai partai politik adalah agen-agen yang tak pernah lepas andil dalam urusan yang satu ini. Semua saling beradu dalam membuat slogan-slogan anti korupsi, kolusi, dan nepotisme yang bagus dan menarik perhatian. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apa efek slogan-slogan itu bagi bangsa kita yang korupnya telah membudaya ini? Ataukah kata-kata anti korupsi ini hanya menjadi slogan yang tak berarti?!

Memang, Harus kita akui bahwa keberadaan slogan-slogan anti korupsi ini sedikit membawa pengaruh bagi kondisi sebagian masyarakat kita, terutama dikalangan pejabat dan aparat negara. Mereka pasti punya rasa malu ketika lingkungan mereka menggalakan anti korupsi tetapi mereka masih melakukannya.

Di sisi lain, ternyata banyak instansi pemerintahan, partai politik, dll. yang hanya menjadikan slogan anti korupsi sebagai pencitraan mereka kepada masyarakat biasa. Hal ini menunjukkan bahwa kata-kata anti korupsi hanya sebatas slogan yang tak banyak berarti. Anti korupsi belum benar-benar tertanam dalam hati.

Contoh nyatanya adalah ketika pemilihan umum (pemilu) presiden dan wakil presiden. Salah satu partai berkoar-koar akan menghentikan korupsi di negeri ini, tetapi dalam praktiknya pun mereka menggunakan uang untuk menyuap masyarakat Indonesia agar memilih pasangan yang diusung partai tersebut. Kemudian yang lebih hebat lagi, kader-kader partai yang dahulu berkoar-koar akan menyetop korupsi, sekarang justru banyak tersandung kasus korupsi.

13

Contoh lainnya terjadi di kantor polres Serang Banten, tepatnya di tempat pembuatan SIM. Disana terdapat spanduk besar yang bertuliskan “STOP KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME (KKN)” “JANGAN PENGARUHI KAMI UNTUK MELAKUKAN KKN.” Spanduk ini mengandung makna yang sangat luar biasa yang menyiratkan bahwa polisi di sana tidak mau disuap. Tetapi relitanya berkata lain, belum juga tes, dua oknum polisi menyarankan kepada para peserta uji SIM untuk melakukan yang mereka sebut dengan penyogokan. Mereka meminta 250 ribu rupiah untuk sebuah SIM padahal uang yang seharusnya dibayarkan ke pemerintah hanya 100 ribu rupiah saja. Dengan kata lain mereka mengambil keuntungan sebanyak 150% harga. Hal yang paling membuat masyarakat serang banten tercengang adalah tes praktik uji SIM dilakukan dengan mengitari sebanyak dua kali track sempit berbentuk angka 8 yang di sampingnya dipasang pembatas dan mereka harus melakukannya dengan tanpa menyentuh tiang pembatas tadi. Tes uji sim tersebut seperti telah di setting agar para peserta gagal dalam menjalaninya. Bayangkan saja, untuk apa tes seperti itu, emangnya dijalanan akan ditemui medan yang seperti demikian, kan tidak!

Satu lagi fakta yang sungguh miris ditengah bangsa yang beragama seperti Indonesia, yaitu tingkat Korupsi tertinggi ada di kementrian agama Republik Indonesia. Lagi-lagi itulah akibat belum tertanamnya nilai-nilai ketuhanan dalam masyarakat Indonesia.

Masih banyak lagi kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa memang ungkapan-ungkapan penolakan terhadap KKN terutama korupsi kurang tertanam di hati penduduk negeri ini. Maka tak mengherankan jika korupsi di bangsa ini kian banyak terjadi sampai-sampai KPK pun sekarang membatasi penyelidikannya hanya pada kasus-kasus korupsi diatas 5 milyar rupiah, hal ini sama artinya bahwa korupsi yang kurang dari 5 milyar dilegalkan atau tidak ada penindakan oleh KPK, badan yang menangani kasus korupsi.

Namun, kita sebagai masyarakat Indonesia harus yakin bahwa kondisi negara ini akan berubah menjadi lebih baik, tidak ada yang tidak mungkin jika kita semua bersatu dan menanamkan anti korupsi dalam hati bukan hanya dalam kata-kata dan ungkapan.

About these ads

3 Komentar

  1. Mochammad mengatakan:

    Slogan saja tentuk tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata dalam memberantas korupsi, terutama dalam mengakkan hukup kepada pelaku dan peristiwa korupsi.
    :) Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

  2. ined mengatakan:

    wah. slogannya kok ada merknya -..-

  3. ganda mengatakan:

    upaya untuk meningkatkan citra diri pada saat pemilu…
    perlu kewaspadaan ekstra untuk pemilu 2014 ketika para calon diragukan oleh masyarakat..

    ( saatnya ganti rezin, ganti sistem!!! )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: